distrik Kiwirok, kabupaten Pegunungan Binta

 

Dua Film Dokumenter Tentang Serangan Brutal di Kiwirok Mendunia

29/12/2024

*Dua Film Dokumenter Tentang Serangan Brutal di Kiwirok Mendunia* 


JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dua buah film dokumenter mengenai aksi penyerangan militer Indonesia di distrik Kiwirok, kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, pada Oktober 2021 lalu, yang telah dirilis baru-baru ini mendapat perhatian luas. Bahkan telah ditonton ribuan orang dari seluruh dunia.


Dua film yang telah dirilis ke publik pada pekan lalu itu masing-masing berjudul “We Made Our Friends an international fugitive”, dan “Frontier War, Inside The West Papua National Liberation Army”. Film dokumenter hasil investigasi tim advokat Australia dan PNG itu telah diumumkan wartawan Kristo Langker bersama timnya.


Dalam dua film dokumenter tersebut memperlihatkan situasi selama dan setelah serangan dari pasukan keamanan Indonesia yang tindakan kekerasannya menimpa warga sipil setempat. Penggunaan bom dan roket yang dilepas dari berbagai arah ke markas Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dirasakan dampaknya oleh masyarakat sipil.


Perjuangan kemerdekaan yang kian meningkat seiring munculnya aksi kontak tembak dengan militer Indonesia —TNI dan Polri— memaksa 2.000 orang mengungsi ke hutan hingga sekian lamanya lantaran takut untuk kembali ke rumah mereka.


Film dokumenter merekam berbagai dampak sosial, termasuk penduduk sipil tewas dalam serangan awal, begitupun warga lainnya tewas kemudian tatkala melarikan diri ke tempat yang lebih aman, serta 284 orang dicatat oleh saksi telah meninggal dunia akibat kelaparan di lokasi pengungsian saat itu.


Aparat keamanan diduga kuat menggunakan bom dan roket yang ditembakkan dari helikopter dan drone dalam serangannya di wilayah Kiwirok.


Distrik Kiwirok merupakan satu dari 34 distrik yang ada di kabupaten Pegunungan Bintang. Di distrik Kiwirok terdapat 12 kampung. Antara lain Kiwi, Oknanggul, Delpem, Kukihil, Pomding, Mangoldoki, Asua, Lolim, Sopamikma, Berusaha, Pelebib, dan Diip.


*Mendunia* 


Pihak TPNPB menyambut baik publikasi dua film dokumenter itu. Kepada Kristo Langker bersama timnya dan tim advokat PNG Trust yang turut berkontribusi dalam pembuatan film dokumenter itu disampaikan terima kasih, ucap Sebby Sambom, juru bicara TPNPB.


“Mengikuti perhatian masyarakat internasional tentang bom mortir di Kiwirok melalui dua film dokumenter itu, kami dari manajemen markas pusat komando nasional TPNPB atas nama bangsa Papua menyampaikan terima kasih kepada Kristo bersama timnya dan juga kepada tim advokat PNG Trust, karena dua film ini telah ditonton oleh satu juta orang di dunia,” kata Sebby melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (28/12/2024).


Hari ini, kata Sebby, hari keenam setelah kedua film dokumenter itu diluncurkan ke publik.


*“Sampai hari ini film berjudul “We Made Our Friends an international fugitive” sudah ditonton oleh satu juta orang, dan 2.800 komentar, juga 84.000 likes. Kemudian, film dokumenter yang kedua berjudul “Frontier War, Inside The West Papua National Liberation Army” telah ditonton oleh 231.000 dan 21.000 likes, juga 3.700 komentar,” jelasnya.* 


Sebby Sambom menyebut kedua film tersebut mau memperlihatkan masifnya kejahatan militer Indonesia di Tanah Papua.


“Dalam hal ini kami perlu sampaikan kepada semua pihak bahwa kampanye kejahatan militer Indonesia di West Papua tidak terbatas, melainkan terbuka untuk umum, karena ini berbicara kebenaran dan hak hidup manusia di Papua yang tidak boleh diabaikan oleh PBB dan masyarakat internasional,” lanjut Sebby.


Oleh karenanya, ia atas nama Komnas TPNPB mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang baik hingga kedua film dokumenter berhasil dibuat dan dilaunching ke publik.


*Serangan Brutal* 


Sejak 10 Oktober 2021, terjadi penyerangan di distrik Kiwirok. Kata Kristo, pembuat film dokumenter, penyerangan dari pasukan TNI menimpa komunitas masyarakat Ngalum Kupel.


Tindakan penyerangan tersebut, lanjut Kristo, tergolong brutal. Sebab, serangannya terus berlanjut dan pihak berwenang Indonesia turut terlibat di dalamnya. Dampak nyata terhadap masyarakat Papua di distrik Kiwirok cukup besar dirasakan hingga Juli 2023.


“Orang Ngalum Kupel punya bukti bahwa pasukan militer Indonesia mengincar seluruh masyarakat Ngalum Kupel dengan Krusik yang dimodifikasi mortir dan roket Thales FZ 68,” bebernya.


Sejumlah bom yang sudah maupun belum meledak bahkan ditemukan warga Ngalum Kupel di berbagai tempat berbeda. Warga kala itu melarikan diri dari serbuan penyerangan. Diduga, sejumlah diantaranya ditembakkan ke arah mereka.


@lanny..Gubuneryy..G..M..🛖👊🏿

Komentar

Posting Komentar

SY ISI