PUISI GERILYAWAN YAHUKIMO
#PUISI
GERILYAWAN YAHUKIMO
Di tanah yang subur oleh darah pejuang, angin membawa kabar perlawanan, di hutan, di lembah, di pegunungan, kami masih berdiri, kami masih melawan.
Di Anggruk, persekongkolan terjadi, mereka mendirikan benteng penjajahan, dengan tangan-tangan yang dulunya saudara, kini tunduk pada penguasa asing.
Kami mendengar nama-nama yang berkhianat, menjual tanah moyang demi ilusi damai, tapi damai yang mereka janjikan adalah belenggu, rantai besi yang membakar tubuh kami.
Kami bukan bayangan dalam gelap, kami adalah api yang tak padam, dari Yahukimo, suara kami menggema, peringatan terakhir bagi mereka yang lupa.
Bumi Papua bukan untuk pengkhianat, bukan untuk agen penjajah, setiap jejak kaki yang menginjak tanah ini, akan diuji oleh darah dan sumpah leluhur.
Dengarlah, wahai langit dan bumi, perjuangan kami bukan sekadar kata, setiap peluru yang ditembakkan ke kami, akan kami balas dengan nyawa dan harga diri.
Kami tidak meminta belas kasihan, kami tidak butuh simpati kosong, yang kami tuntut adalah keadilan, yang kami perjuangkan adalah kemerdekaan.
Jangan kira kami akan diam, jangan sangka kami akan menyerah, selama masih ada nyawa di dada, Kombatan West Papua akan terus melawan!
Namolla Amole
Nyanyian Sunyi, 30 Maret 2025.

Semagat
BalasHapus