2046 ORANG PAPUA PUNAH BUKAN ISAPAN JEMPOL,SIAPKAH
2045 ORANG PAPUA PUNAH
BUKAN ISAPAN JEMPOL,SIAPKAH KITA?
Pernyataan ini disampaikan oleh kk Jose di Podcast Dedy Corbuzier.
Pertanyaannya apakah benar ini akan terjadi? jawabannya ada ditangan kita sekarang.
Mengapa demikian?
Sekitar enam tahun yang lalu, ketika saya bertugas di IGD saya bertemu pasien laki2, orang asli papua, usia 20an yang mengalami gangguan jiwa berat karena pemakaian ganja.
Saat saya telusuri lebih lanjut ternyata pasien ini juga ODHA (orang dengan HIV/AIDS).
Selama belasan tahun saya bertugas sebagai dokter itu pertama kalinya saya bertemu pasien yang mengalami gangguan jiwa namun juga dengan HIV.
Saat itu hati saya benar2 terpukul, tertampar kenyataan dalam pikiran terus muncul pertanyaan bagaimana papua kedepan?
Bayangkan, pasien ini seorang laki-laki dengan usia produktif punya masa depan yang masih panjang, namun karena salah jalan dia harus menuai diusia yang begitu muda mengalami gangguan jiwa.
Andaikan dia hanya kena HIV, dia masih bisa produktif, masih bisa kerja, masih bisa meneruskan keturunan yang bebas dari HIV dengan rutin minum obat. Namun saat ini otaknya , daya pikirnya yang terganggu karena ganja, bagaimana masa depannya nanti?
Ya ganja dan minuman keras dua hal yang mungkin dianggap hal yang sudah biasa bagi anak2 muda di Papua. Tapi dua hal ini akar dari segala penyakit sosial yang timbul di Papua.
Kenapa seperti itu? Karena ketika menggunakan hal2 itu otak sudah tidak berpikir rasional lagi. Kekerasan terjadi, tindak kejahatan terjadi dan perilaku seks bebas terjadi.
Akhirnya HIV dan gangguan Jiwa yang kita tuai sekarang.
RSJ Abepura menuai pasien dengan gangguan jiwa di Papua ini karena penggunaan ganja.
Dokter Spesialis Kejiwaan pada Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Abepura Dr. Izak Yesaya Samay, Sp.KJ mengatakan, hampir 80 persen para pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang mendatangani fasilitas kesehatan itu adalah para pemakai ganja dengan umur rata-rata usia produktif 15-35 tahun dan didominasi Orang Asli Papua. Ini sangat mengkhawatirkan.
Kemudian mungkin ada yang mengatakan saya hanya minum minuman keras kok tidak pakai ganja?
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 36,2% pasien dengan gangguan mental berat memiliki gangguan penggunaan alkohol, yang menunjukkan interaksi dua arah antara kecanduan alkohol dan penyakit mental. Bahkan pengguna alkohol yang lama dapat menyebabkan gangguan mental organik dan gangguan kognitif pada otak.
Apa yang bisa kita harapkan dari generasi yang otaknya mengalami gangguan?
Bagaimana Papua nanti kedepan?
Belum selesai dengan HIV/AIDS, TB paru dan berbagai penyakit menular seksual sekarang muncul lagi gangguan mental.
Bagaimana Papua nanti di 2045?
Jawabannya ada di tangan kita sekarang.
Apakah kita mau jaga diri dari minuman keras?
Apakah kita mau jaga diri dari ganja?
Apakah kita mau jaga diri dari seks bebas
Masa depan Papua tidak jatuh dari langit. Ia dibangun hari ini dengan keputusan untuk mengatakan TIDAK pada miras, ganja, dan seks bebas.
Apa yang kita harapkan dari generasi Papua 2045? Jawabannya ada pada seberapa kuat kita menjaga otak dan tubuh kita tetap sehat dari narkoba dan perilaku menyimpang sekarang.
Penyakit menular seksual, HIV, TB Paru, dan gangguan mental adalah musuh dalam selimut. Menjaga diri dari seks bebas dan pergaulan tidak sehat adalah tindakan patriotisme tertinggi pemuda Papua saat ini.
Otakmu adalah aset termahal. Jangan biarkan ganja dan alkohol merusak mahakarya Tuhan di dalam kepala kita.
Tuhan titipkan tanah yang kaya, kita wajib titipkan tubuh dan mental yang sehat untuk mengelolanya. Mari jaga diri, sayangi masa depan, dan bangun Papua dari sekarang.
Ingat: "Masa depan Papua ada di tangan kita. Pilihan ada di tangan kita. Jaga diri, Jaga Papua."

Komentar
Posting Komentar
SY ISI