Pilot
voaindonesia.com/a/keluarga-berterima-k iniasih-kepada-kkb-papua-karena-menjaga-pilot-selandia-baru/7793727.html
22/9/2024
*Keluarga Berterima Kasih Kepada KKB Papua Karena Menjaga Pilot Selandia Baru*
Keluarga pilot Selandia Baru yang diculik oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pada Minggu (22/9) berterima kasih kepada kelompok separatis tersebut karena telah merawatnya selama penyanderaan yang berlangsung lebih dari satu setengah tahun.
Phillip Mehrtens, 38 tahun, bekerja sebagai pilot untuk maskapai penerbangan Susi Air ketika ia diculik TPNPB di Bandara Nduga, Papua pada 7 Februari tahun lalu.
Sehari setelah pembebasannya diumumkan, keluarga Mehrtens mengeluarkan pernyataan yang berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembebasannya termasuk Pemerintah Indonesia, polisi dan militer, dan otoritas Selandia Baru.
Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada Ekianus Kogoya, Komandan Militer TPNPB beserta para anggotanya, karena telah “menjaga Phil dengan sebaik mungkin, memastikan keselamatannya, serta mengizinkan Phil menyampaikan beberapa pesan selama masa penahanan untuk meyakinkan kami bahwa ia masih hidup dan dalam kondisi baik.”
"Pesan-pesan itu memenuhi jiwa kami dan memberi kami harapan dan bahwa kami akhirnya akan bertemu Phil lagi," kata keluarga Mehrtens.
Selama dalam penahanan di pedesaan Papua, warga Selandia Baru menyampaikan pesan kepada keluarga dan pemerintah Selandia Baru melalui rekamanan video yang dirilis tidak menentu.
Kelompok separatis memastikan kesehatan Phil selama dalam penyanderaan. Namun, penampilan Mehrtens berubah drastis seiring waktu. Pilot itu menjadi kurus kering, rambutnya memanjang, dan berjanggut yang terlihat dalam video-video yang menjadi bukti bahwa ia masih hidup.
Mehrtens terlihat dalam kondisi fisik yang baik dalam foto yang dirilis setelah ia dibebaskan
#lanny..Gubuneryy..G..M..🛖🌹🤚🏻🇨🇺
27 sep 09/2024
Kau ingat saat pertama kali mendarat di sini? Kami menahanmu. Kau pikir kami jahat, kau pikir kami monster yang haus darah. Tapi apa lagi yang bisa kami lakukan? Dunia menutup mata, menulikan telinga, membiarkan kami tenggelam dalam derita yang tak pernah berakhir. Kami menahanmu bukan untuk menyakiti, tapi untuk satu harapan terakhir—agar dunia, lewat matamu, akhirnya melihat bahwa kami ada, bahwa kami sedang sekarat di tanah kami sendiri.
Awalnya, takut tampak jelas di wajahmu. Tapi, hari demi hari berlalu. Kau mulai melihat sesuatu yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Kami, yang dikatakan sebagai ‘pemberontak’, tidak menodongkan senjata padamu. Kami mengulurkan tangan, mengobati luka-lukamu, memberimu tempat perlindungan. Ketika tentara penjajah datang, mencarimu untuk menghabisimu dan menuding kami sebagai pelakunya, kami melindungimu. Kami, yang kehilangan anak-anak, saudara, dan ibu kami karena peluru mereka, justru mempertaruhkan nyawa kami untuk menjagamu tetap hidup.
Di hutan ini, kau tak hanya melihat pemandangan. Kau melihat air mata yang tak pernah berhenti jatuh. Kau mendengar jeritan ibu yang anaknya diambil dengan paksa, suara para bapak yang tak lagi punya tanah untuk diolah, suara kami—bangsa yang selalu dikalahkan, diseret ke tanah, diinjak-injak, tapi tak pernah mati. Kau melihat lebih dari sekadar peperangan; kau melihat hati yang hancur, jiwa yang terbungkam, tapi tak pernah padam.
Saat ini, kau akan pergi. Tapi bukan sebagai tawanan. Kau pergi sebagai saudara yang membawa suara kami. Kami memelukmu untuk terakhir kalinya, dengan hati yang dipenuhi harapan dan kesedihan. Harapan bahwa dunia akan mendengarkanmu, bahwa mereka akan mendengarkan cerita kami. Kesedihan karena kami tahu, mungkin setelah kau pergi, tidak ada yang akan berubah. Dunia telah lama membiarkan kami tenggelam dalam gelap, dan kami takut, kau juga akan dilupakan, seperti kami yang telah lama dilupakan.
Tapi tolong, jangan lupakan kami. Ingat setiap air mata yang jatuh di hutan ini, setiap tangan yang mengobati lukamu, setiap bisikan keluh kesah yang kau dengar di malam yang sunyi. Kau telah melihat sendiri, kami bukan penjahat yang mereka katakan. Kami bukan pemberontak yang ingin menghancurkan. Kami adalah manusia yang hanya ingin hidup, ingin bebas, ingin memiliki masa depan di tanah yang seharusnya menjadi milik kami.
Saat kau melangkah keluar dari sini, kami menitipkan suara kami padamu. Bawa tangisan ini ke dunia. Biarkan mereka tahu bahwa di sini, di tempat yang jauh dari perhatian, ada rakyat yang terus berjuang, meski tubuh kami hancur, meski suara kami dipadamkan. Jangan biarkan kami hilang tanpa arti.
Pergilah, saudara kami. Bawalah kebenaran kami. Dan jika dunia masih berani menutup mata, setidaknya kau telah mendengarnya, setidaknya kau tahu bahwa di sini, ada bangsa yang masih hidup, meski diselimuti penderitaan. Jangan lupakan kami. Biarkan kisah ini terus bergema di langit, sampai akhirnya dunia mendengar.
Pesan Perpisahan Untuk Pilot Philip Mark Merthens
#lanny..Gubuneryy..G..M..🛖🌹




Komentar
Posting Komentar
SY ISI