Apakah kaum revolusioner membutuhkah parlemen?
Apakah kaum revolusioner membutuhkah parlemen?
Kapitalisme sedang membusuk dengan sangat cepat bahkan dengan kecepatan yang tidak pernah disangka oleh para ekonom-ekonom borjuis sebelumnya. Di sisi lain, di dalam kebusukan ini ia tengah menciptakan kondisi revolusioner yang akan mendorong kaum muda serta rakyat pekerja kembali ke jalan perjuangan. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan ekonomi, perang, rasisme, penggusuran, PHK massal, upah murah, pengangguran, KKN, terlebih kondisi ini menciptakan keniscayaan semakin merebaknya pauperisme - semua ini terus mempertajam antagonisme kelas.
Tidak hanya Indonesia menuju jurang kegelapan. Kapitalisme di seluruh dunia pun tengah memasuki periode kehancurannya. Krisis organik kapitalisme mengancam kehidupan kaum muda dan rakyat pekerja di seluruh belahan dunia. Tidak ada satu pun negara yang dapat keluar bahkan membaik setelah di landa krisis ini.
Baru-baru ini masyarakat dunia di beritakan; keruntuhan tatanan liberal di AS dengan terpilihnya kembali Trump. Perang dagang yang semakin menajam, yang menandai berakhirnya globalisasi. Krisis inflasi dan krisis biaya hidup yang semakin mencekik. Krisis utang. Perang di Gaza, Ukraina, dan Kongo. Ketegangan hubungan internasional, tidak hanya antara AS dan China, tetapi bahkan di antara sekutu-sekutu lama. Inilah gambaran dunia hari ini.
Mendasari semua ini pada analisa terakhir adalah krisis overproduksi kapitalisme. Mengapa? "Karena terlalu banyak peradaban, terlalu banyak sarana penghidupan, terlalu banyak industri, terlalu banyak perdagangan," begitu jelas Marx. Kapasitas produksi kapitalis tidak bisa diserap oleh pasar yang semakin sempit - dalam kata lain, daya beli rakyat pekerja yang semakin terbatas. Mengenai hal ini anda bisa akses di sini: https://revolusioner.org/kapitalisme-dan-krisis/
Apa itu parlemen?
Tan malaka, di dalam karyanya: Parlemen atau soviet? Parlemen tidak lain hanyalah seperti warung kopi - tempat ahli pendebat untuk berdebat tanpa menemukan solusi atas persoalan langsung yang dihadapi mayoritas masyarakat. Dia menulis karya ini jauh sebelum Indonesia merdeka dan dia sudah jauh mengantisipasi keterbatasan parlemen.
Parlemen atau Soviet? ditulis Tan Malaka pada tahun 1921 di Semarang. Karya ini ditulis pada saat dia menjadi guru sekolah di Sarekat Islam dan mengajar anak-anak buruh kereta api. Dia menulis buku ini dengan analisis historis yang jelas, seperti peristiwa Parlemen melawan istana di Inggris pada zaman Oliver Cromwell yang berhasil mengeksekusi Raja Charles I di abad ke-17. Dia juga menjelaskan bagaimana kondisi parlemen Jerman yang tak sehebat parlemen Inggris.
Dalam karyanya ini Tan Malaka mencoba memperlihatkan kesamaan antara istana dan perlemen dalam menghadapi perang (perang imperialis). Maka dari itu sudah barang tentu parelemen adalah alatnya kelas penguasa. Seperti ketika mahasiswa mengkritisi kebijakan politik pemerintah, mereka berdeyun-deyun membanjiri DPRD di masing-masing kota - penolakan ini dan itu, tapi apa yang setelahnya seperti yang anda ketahui itu hanya tindakan yang sia-sia. Karena pada dasarnya parlemen adalah produk kelas punguasa borjuasi hari ini.
Buku ini juga menjelaskan bahwa dalam benak pikiran Tan Malaka, Indonesia tidak memerlukan parlemen, tapi memerlukan "Soviet". Soviet adalah sebuah badan pemerintahan pekerja yang berbeda sepenuhnya dengan parlemen borjuasi. Bila di parlemen kekuasaan terbagi melalui Trias Politica (Yudikatif, Legislatif dan Eksekutif), yakni mereka yang membuat aturan dan yang, melaksanakan aturan dibedakan, maka di dalam Soviet semuanya sekaligus.
Tidak hanya seorang revolusioner seperti Tan Malaka saja yang menyinggung soal parlemen, ada salah satu tokoh revolusioner terkemuka seperti Rosa Luxemburg dalam karyanya: "Reformasi atau Revolusi" yang terbit pada tahun 1898.
Reformasi atau Revolusi
Pertama-tama, Luxemburg menekankan bahwa ketika kita melawan reformisme, bukan berarti kita menolak reforma. Ini tuduhan tak berdasar yang kerap dilontarkan kaum reformis kepada kaum revolusioner.
Banyak pemikiran irasional sepanjang sejarah - bahkan sampai hari ini, yang menuduh kaum revolusioner yakni ia menolak reforma-reforma dalam karangka kapitalisme. Mengenai poin ini Luxemburg menjelaskannya secara tepat. Karena di dalam sistem kapitalisme seorang revolusioner tidak bergerak secara pasif, tapi materialisme dialektis.
Perjuangan untuk reforma-reforma sehari-hari dan perjuangan untuk revolusi bukanlah bertentangan, justru sebaliknya saling berkaitan. Perjuangan sehari-hari dalam memperbaiki kondisi hidup kaum buruh dan menerapkan reforma-reforma dalam kerangka sistem kapitalis, melalui institusi-institusi demokratiknya adalah jalan bagi kita untuk "masuk ke dalam perang kelas proletar dan berjuang ke arah tujuan akhirnya", yaitu perebutan kekuasaan oleh kelas buruh. "Perjuangan untuk reforma adalah caranya; revolusi sosial, tujuannya," tulis Luxemburg. Namun tidak sampai di situ saja hambatan kelas buruh.
Luxemburg menegaskan kembali bahwa reforma-reforma tersebut juga tidak bisa dengan sendirinya mewujudkan sosialisme. Reforma-reforma yang diperjuangkan dalam kerangka kapitalisme bertujuan untuk mempersiapkan kelas buruh demi suksesnya revolusi sosialis. Buruh senantiasa dididik dari pengalamannya sendiri. Melalui pengalamannya memperjuangkan reforma sehari-hari, bila perjuangan ini dibimbing oleh kepemimpinan yang revolusioner maka buruh akan semakin sadar atas tugas historisnya: mengambil kekuasaan ke tangannya untuk menegakkan sosialisme. Sehingga ketika kapitalisme masuk ke dalam periode krisis, buruh siap untuk memenangkan revolusi sosialis.
Seperti yang di jelaskan oleh kaum marxis berulang-ulang kali - sejarah tidak berjalan lurus, melainkan ada lompatan-lompatan kesadaran. Sebagai seorang revolusioner sudah barang tentu dapat membedakan: Eklektisme borjuis-kecil dan Marxisme, sofisme dan dialektika, reformisme filistin dengan revolusi proletariat. Jika kita menginginkan kemenangan sosialis segera, kita harus menelanjangi musuh-musuh rakyat pekerja - baik secara tindakan langsung mereka melalui institusi-institusi negara maupun ide-ide yang keliru yang membuat bingung kelas buruh.
Langakah ke depan
Tidak sedikit aktivis bahkan yang mengaku sosialis mendambakan perubahan melalui parlemen atau paling tidak setiap harinya sekadar mengkritisi parlemen - aktor di dalamnya yang buruk. Tapi, apakah demikian?
Sebentar dulu .. bukankah berkali-kali aktivis kiri masuk parlemen atau bahkan masuk partai borjuis seperti PDIP, HANURA, dll., tapi hasilnya mereka justru menjadi perias penguasa. Budiman Sudjatmiko dan Dita Indah Sari, bekas pemimpin PRD itu, adalah salah satu contoh menjijikkan dari orang-orang ini. Begitu juga PRD hari ini (yang telah menjadi PRIMA), yang kini bernaung di bawah ketiak Prabowo.
Di sini kami tidak mengharapkan apapun dari individu-individu yang menjijikan dengan segala omong kosong mereka melalui partai-partai borjuis yang ada, mereka adalah puing-puing yang tak berdaya di tengah kondisi sosial hari ini. Siapapun yang mengkritik mereka adalah tidak lain sebagai ekspresi kelemahan teori dan kepengecutan, dari orang-orang yang seperti ini mustahil kita temukan seorang revolusioner lahir dari pemikiran borjuis kecil dan ide-ide keliru yang mereka pertahankan. Justru sebalikanya mereka menimbulkan kebingungan pada generasi selanjutnya, karena tidak menyentuh persoalan utama umat manusia yakni perjuangan kelas - dengan mengapropriasi kepemilikan pribadi kelas borjuasi. Inilah duduk perkaranya.
Kelas pekerja hanya membutuhkam waktu untuk membentuk sebuah kelas revolusioner - kondisi krisis hari ini, semakin membuat proletariat akan haus dengan ide-ide yang maju, itu sudah terbukti di seluruh dunia hari ini! lamban atau cepat kelas proletar semakin sadar kelas dan sudah siap menghadapi situasi revolusioner dengan gigih tanpa kompromi dan belas kasih melalui organisasi proletariat profesional mereka. Di saat-saat ini lah kelas buruh menuntaskan tugas historisnya sebagai kelas yang memegang kekuasaan di tangan mereka. Dan menegakkan sosialisme!
Bangun Bolshevisme sekarang juga: https://revolusioner.org/bergabung/



Komentar
Posting Komentar
SY ISI