komite nasional Papua Barat (KNPB) konsulat Indonesia wilayah Gorontalo bersama (AMPTPI,) (IMPIP) (LMDI) bergabung ‎Forum solidaritas mahasiswa papua Mengelar AKSI DAMAI depan kampus universitas negeri Gorontalo,

































































 

komite nasional Papua Barat (KNPB) konsulat Indonesia wilayah Gorontalo bersama (AMPTPI,) (IMPIP) (LMDI) bergabung ‎Forum solidaritas mahasiswa papua Mengelar AKSI DAMAI depan kampus universitas negeri Gorontalo, 

melawan rasisme terhadap bangsa Papua.


Ic-wpnc- EWS: ‎salam revolusi, kita harus mengakhiri .Sallam pergerakan, salam perjuangan, salam pembebasan, salam satu tunggu dalam satu honai..

Pada‎Tanggal 19 agustus 2019 adalah tanggal yang penuh bersejarah dalam kehidupan rakyat Papua, dimana pada saat itu sekelompok ormas mengepung asrama mahasiswa Papua di surabaya, dengan teriakan orang papua monyet, yang kini masih menjadi bekas luka dalam hati masyarakat Papua dan kini rasisme itu terus tumbuh. Maka itu kami seluruh orang papua yang berstudi di gorontalo serta kawan-kawan solidaritas LMID mengadakan aksi damai, turun jalan.


Rasisme tumbuh subur terhadap orang Papua. Di mana 6 tahun yang lalu tepatnya pada 16 Agustus 2019 terjadi rasisme terhadap mahasiswa Papua di  Surabaya. Aksi protes terjadi dimana-mana, mulai dari luar Papua sampai Papua. Bahkan, beberapa orang ditangkap, diantaranya 6 orang di Jakarta, 7 orang di Papua dan sebagian besar mahasiswa Papua melakukan  eksodus sebagi bentuk protes. Viktor Yeimo dan kawan-kawan ditahan dengan  tuduhan dalang daripada kericuhan di Papua saat protes di Papua, padahal aksi  protes besar-besaran tersebut dilakukan secara spontan atas tindakan rasisme yang tumbuh subur.

Protes rakyat Papua terhadap isu rasisme itu bermula akibat sikap segelintir rakyat Indonesia dan oknum militer yang melakukan persekusi dan perlakuan rasis dengan label “usir Monyet” terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya dan Semarang berturut-turut pada tanggal 15-17 Agustus 2019. 


Akibat aksi rasis tersebut mendorong seluruh rakyat Papua melakukan protes di berbagai wilayah Tanah Papua dengan memobilisasi diri hampir di 42 kabupaten dan kota di Tanah Papua, 17 Kota di Indonesia dan 5 kota di luar negeri dengan tuntutan Lawan Rasisme dan Berikan Referendum bagi Rakyat Papua.

Sikap rasis negara tersebut juga dipertegas dengan mengirim 6500 personil Polisi Brimob dan Tentara yang bertugas pada ribuan Pos Militer dadakan hampir di seluruh kompleks di tingkat kabupaten dan kota di Tanah Papua dengan alasan mengamankan situasi yang dalam framing Indonesia sedang terjadi kekacaun skala besar di Papua. Akibat pola represif militer tersebut, terjadi penangkapan dan pemenjaraan sewenang-wenang terhadap 72 rakyat Papua yang divonis makar, penghilangan nyawa secara paksa terhadap 35 orang Papua, 30 diantaranya di tembak mati, 284 orang terluka akibat pola represif, terjadi pengungsian skala besar (22.800 jiwa) di Nduga, peristiwa exdodus ke Papua dari 6000 pelajar dan mahasiswa Papua yang menimba ilmu di wilayah Indonesia hingga 23 kasus penyerangan terhadap Pembela Hak Asasi Manusia di Tanah Papua. Dampak represif tersebut terjadi  pada periode Agustus-Desember 2019.


Maka bulan Agustus ini menjadi bulan sejarah bagi rakyat Papua. Menjadi catatan Perjuangan Rakyat Papua yang terus diingat. Oleh sebab itu, dalam momentum 6 Tahun peristiwa Rasisme yang dialami Orang Papua ini, kami mengajak kawan semua, Orang Papua, Solidaritas Rakyat Indonesia maupun Individu Prodem untuk Bersama turun ke jalan dan melakukan Protes terhadap Watak Negara yang Rasial. Kita ketahui Bersama bahwa Rasisme adalah musuh Bersama, sehingga kami mengajak semua kawan untuk melawan Watak Rasial yang terpelihara di dalam system Negara ini. 

Rapatkan barisan Bersama, pegang erat tali komando, kami Bersama turun ke jalan MELAWAN RASISME.


‎Dengan isu sentral : Stop Rasis & diskriminasi terhadap orang papua

‎Isu turunan

‎1.  PBB Segera tinjau ulang pelaksanaan new York agreement 15 Agustus 1962.

‎2. Pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas seluruh pelanggaran HAM diatas tanah Papua. 

‎3. Segera Tarik militer organik dan Non organik dari seluruh tanah Papua. 

‎4. Tolak seluruh perusahaan legal maupun ilegal diatas tanah Papua. 

‎5. Buka jurnalis asing seluas luasnya diatas tanah Papua. 

‎6. Berikan penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua sebagai solusi demokrasi.


‎Setelah tiba di titik aksi kawan-kawan mulai orasi-orasi dan dalam orasi tersebut kawan-kawan menegaskan bahwa rasis bukan cuma musuh orang Papua tetapi semu umat manusia maka itu semua manusia harus bersatu untuk melawannya. 

‎Dan juga dalam orasi kawan-kawan menegaskan juga bahwa, orang Indonesia baru saja merayakan kemerdekaan Indonesia tetapi kemerdekaan itu kami tidak rasakan diatas tanah papua. Yang kami rasakan hanyalah penindasan penjajahan, hingga kini orang tua kami masih mengungsi dimana-mana


Melawan rasisme bangkit dan lawan 

#KNPBmediarakyat 

#AMPTPIhidup 

#LMIDsiapsedia

#IMPIPhidup 

#Ic-wpnc- EWS udace 

#LawanRasisme #PapuaLivesMatter #FreeWestPapua


Komentar