Komando TPNPB XVI Yahukimo


 Komando TPNPB XVI Yahukimo Menembak Mati Petugas Badan Intelijen Negara (BIN) berpose sebagai guru dan mengeluarkan Peringatan untuk Segera Evakuasi Imigran Indonesia dari Wilayah Yahukimo dan juga Peringatan TPNPB bahwa Imigran Indonesia Tidak Memiliki Jaminan Kelangsungan Hidup di Yahukimo


Second Press Release from the Management of the West Papua National Liberation Army Command Headquarters (KOMNAS TPNPB) as of Monday, February 2, 2026


Silakan ikuti laporan di bawah ini!


Komando Nasional Markas Besar Tentara Pembebasan Nasional (Komnas TPNPB) Papua Barat telah menerima laporan resmi dari Komandan Operasi TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, menyatakan bahwa dari kemarin hingga Senin, 2 Februari 2026, pasukan TPNPB dari Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo, termasuk Kanibal Batalion, Batalion Yamue, Batalion Eden Sawi, dan semua Perusahaan TPNPB dan pos-pos terdepan, telah menembak dan membunuh empat agen intelijen militer Indonesia, guru, termasuk penduduk asli Papua.


Penembakan ini dilakukan karena seluruh agen intelijen militer Indonesia telah melewati zona merah atau zona perang di Yahukimo dan belum mematuhi peringatan TPNPB untuk segera menghentikan aktivitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, kantor, sopir, dan kegiatan lainnya untuk mencegah korban akibat perang.


Mayor Kopitua Heluka juga menekankan bahwa semua sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintah terpaksa mengeluarkan perintah penutupan dan eksekusi karena semua pekerjaan tidak lagi benar-benar dilakukan oleh fungsi sipil. Kami telah menemukan bahwa banyak data yang kami terima telah disusupi oleh anggota BIN yang telah memasuki zona perang.


Oleh karena itu, kami sekali lagi mendesak seluruh imigran Indonesia dan penduduk asli Papua yang bekerja sama dengan negara Indonesia untuk segera meninggalkan Yahukimo.


Kami telah menerima data yang menunjukkan bahwa anggota BIN tidak hanya merekrut dari TNI dan Polri, tetapi juga dari peran sipil seperti guru, tenaga kesehatan, PNS, dan pedagang.


Kami siap mengeksekusi semua yang ditemukan di jalanan. Kami juga mendesak semua imigran Indonesia untuk tidak tinggal di Yahukimo.


Tidak ada jaminan keamanan dari militer Indonesia. Jadi mohon segera pulang ke kampung halaman di jawa, sumatra, kalimantan, sulawesi, dan kampung halaman masing masing.


Semua pasukan TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo sedang melakukan operasi di zona perang, membutuhkan evakuasi segera.


Mayor Kopitua Heluka, bersama seluruh pasukan TPNPB, menekankan kepada Presiden Prabowo Fabianto bahwa Komando Wilayah Pertahanan TPNPB XVI Yahukimo tidak akan pernah ragu, meringkuk, atau mundur di medan perang untuk mendapatkan kembali kemerdekaan Papua.


Oleh karena itu, semua aktivitas sipil harus segera ditutup untuk mencegah korban sipil.


Markas Komando Nasional TPNPB juga mendesak masyarakat internasional dan PBB mendesak Presiden Prabowo Subyanto menyelesaikan perselisihan politik dan konflik bersenjata antara TPNPB dan Pemerintah Indonesia. Kami juga menekankan hal ini sesuai dengan kebijakan Presiden Prabowo Subyanto mencari solusi perdamaian dunia atas konflik tersebut.


Oleh karena itu, Prabowo Subyanto harus terbuka untuk duduk bersama rakyat Papua untuk negosiasi perdamaian guna menemukan solusi, karena konflik bersenjata dan operasi militer Indonesia telah mengakibatkan ribuan kematian warga sipil dan perpindahan ratusan ribu dari tanah leluhur mereka.


Inilah Siaran Pers Kedua dari Kepengurusan Komando Nasional Komando Nasional TPNPB (KOMNAS TPNPB-APM) per Senin, 2 Februari 2026,


Oleh Sebby Sambom, Juru bicara TPNPB-OPM.


Dan terima kasih atas kerjasama yang baik.


Personil Nasional Bertugas di Markas Komando Nasional TPNPB-APM.


 General Goliath Tabuni

Panglima TPNPB-OPM


Letnan Jenderal Melchizedek Awom

Wakil Panglima TPNPB-OPM


Mayor Jenderal Terianus Satto

Kepala Staf Umum TPNPB-OPM


 Major General Lekkagak Telenggen

Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM

Komentar