AKTIVISME TANPA REALITAS: KRITIK ATAS IDEALISME KOSONG DAN NARSISME GERAKAN.


 AKTIVISME TANPA REALITAS: KRITIK ATAS IDEALISME KOSONG DAN NARSISME GERAKAN.


Oleh: Jhon Tabuni (Intelektual Progresif)


_(Saya menulis ini berbentuk kritik dan otokritik, ditujukan kepada mereka yang mengaku dirinya Aktivis, Intelektual, Pemuda Kritis dan Mahasiswa yang terdepan dalam idealisme namun terbuntut dalam kontekstual, cerdas dalam beretorika tapi bodoh dalam realitas yang faktual, paham dalam front stage namun buta dalam back stage)_


Aktivisme sejati menuntut lebih dari sekadar semangat dan slogan. Ia membutuhkan kapasitas analisis yang tajam—kemampuan membaca situasi secara dialektis: kapan harus maju dan kapan harus mundur; kapan berkompromi dan kapan menolak kompromi; kapan menggunakan narasi ekstrem dan kapan memilih pendekatan kontekstual; kapan berpikir taktis dan kapan bertindak strategis. 


Tanpa kemampuan ini, aktivisme mudah terjebak dalam romantisme perjuangan yang hampa dan tanpa arah. Dalam konteks korban nyawa hari ini Kabupaten Puncak, setiap kaum intelektual harus memiliki kemampuan dengan daya tinggi untuk:

1. Melihat kondisi faktual di lapangan yang dirasakan anak, orang tua, dan pemuda di Ilaga, Beoga, Sinak (Kemburu-Pogoma), apa yang mereka pikirkan, harapkan dan derita. 

2. Melihat aktor-aktor yang memainkan dalam teori Dramaturgi (Erving Goffman)

3. Membaca nontekstual dalam strategi kejahatan kemanusiaan


*Idealisme Tanpa Konteks: Akar Kemandekan Gerakan*


Salah satu penyakit utama dalam gerakan sosial hari ini (terutama di kalangan mahasiswa dan intelektual prematur adalah kecenderungan memuja idealisme tanpa pijakan realitas. Banyak aktivis, mahasiswa, intelektual, dan bahkan mereka yang mengklaim diri sebagai pejuang revolusioner, terjebak dalam dogma ide yang kaku. Mereka mengandalkan satu perspektif sempit, seolah realitas tunduk pada teori—bukan sebaliknya.


Padahal, zaman terus bergerak. Kita hidup dalam realitas yang dinamis, di mana perubahan adalah keniscayaan. Dalam kondisi seperti ini, idealisme tanpa konteks, tanpa taktik, tanpa strategi, dan tanpa tujuan operasional hanyalah ilusi politik. Akibatnya jelas: gerakan menjadi stagnan. 


Slogan kehilangan daya hidup. Seruan perjuangan menjadi repetitif, basi, dan tidak lagi menyentuh kebutuhan riil rakyat.


Dalam konteks gerakan sosial, ada point esensial yang sering terlupakan kaum intelektual dalam perspektif marxisme bahwa, Marx pernah bilang teorinya sebagai "pedoman untuk bertindak", bukan kitab suci yang statis/absolut.


Marx dan Engels sendiri sering menekankan bahwa analisis mereka sangat bergantung pada kondisi sejarah yang spesifik, ada beberapa alasan mengapa Marxisme sebenarnya dirancang untuk menjadi metode yang cair. Saya bedah singkat dengan 3 perspektif yakni:


*Materialisme Dialektis*


Inti dari pemikiran Marx adalah perubahan. Karena materi (kondisi ekonomi dan sosial) terus berubah, maka cara kita menganalisisnya pun harus ikut bergeser. Menjadikan Marxisme sebagai dogma yang kaku justru akan membunuh sifat "dialektis" itu sendiri.


*Kritik Terhadap Kondisi Zaman*


Marx mengembangkan teorinya sebagai respons terhadap Revolusi Industri di Eropa abad ke-19. Marx mengharapkan para pengikutnya untuk terus melakukan "kritik tanpa ampun terhadap segala sesuatu yang ada," termasuk terhadap kesimpulan-kesimpulannya sendiri jika kondisi zaman sudah berubah.


*Anti-Utopianisme*


Berbeda dengan sosialis utopis yang merancang cetak biru masyarakat masa depan secara detail, Marx lebih fokus pada alat analisis (pisau bedah) untuk memahami kontradiksi dalam sistem yang sedang berjalan. 


Tragisnya, dalam sejarah abad ke-20, banyak rezim politik termasuk intelektual kabualan hari ini justru membekukan pemikiran Marx menjadi dogma negara dan dogma retorika individual yang kaku demi melegitimasi kekuasaan dan puja puji diri, yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan semangat kritis Marx.


*Keterputusan dengan Massa: Aktivisme Elitis dan Narsistik*


Masalah lain yang tidak kalah serius adalah keterputusan antara aktivis dan realitas rakyat. Aktivisme yang tidak berakar pada pengalaman konkret massa akan berubah menjadi aktivitas elitis—penuh retorika, tetapi miskin relevansi.


Ketika rakyat mengalami kekerasan, intimidasi, duka, tekanan militer, operasi militer dan non-militer, atau bahkan kondisi psikologis seperti depresi dan trauma, mereka tidak membutuhkan ceramah kosong dari kejauhan. Mereka tidak membutuhkan suara keras yang tanpa isi—yang hanya menjadi “nyaring seperti toples kosong dan telanjang tembus pandang”. 


Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kehadiran konkret, empati politik, dan keterlibatan langsung.


Jika seorang aktivis gagal memahami kondisi ini, maka yang terjadi bukanlah penguatan gerakan, melainkan pembentukan jarak. Ia secara tidak sadar menarik garis pemisah antara dirinya dengan rakyat, antara narasi dengan kenyataan, antara ide dengan kehidupan.


*Pelajaran Revolusioner: Fleksibilitas Taktik, Keteguhan Prinsip*


Kakak Muller pernah bilang: tugas kaum revolusioner adalah membawa program pembebasan ke tengah massa, menghubungkannya dengan keresahan rakyat, lalu menyatu dengan kebutuhan dasar mereka. Dari situ, barulah ditarik kesimpulan strategis tentang langkah yang harus ditempuh.


Ini berarti satu hal penting: fleksibel dalam taktik, tetapi teguh dalam prinsip.


Sejarah memberikan pelajaran konkret. Dalam momentum kejatuhan rezim Orde Baru tahun 1998, elemen gerakan seperti PRD tidak bekerja dalam ruang hampa. Mereka mampu menghubungkan berbagai persoalan kecil dalam kehidupan rakyat dengan struktur kekuasaan yang lebih besar. Bahkan hal-hal yang tampak sederhana sekalipun dijadikan pintu masuk untuk membangun kesadaran politik yang lebih luas.


Ini bukan manipulasi, melainkan seni mengorganisir kesadaran—mengaitkan pengalaman sehari-hari rakyat dengan sistem yang menindas mereka.


*Gramsci dan Kritik atas Idealisme Tanpa Praktik*


Dalam perspektif Antonio Gramsci, kesadaran tidak cukup dibangun di ranah ide semata. Ia harus menjadi praksis—berakar pada tindakan konkret dalam ruang sosial yang nyata.


Idealisme tanpa praktik adalah bentuk lain dari ketidakberdayaan. Ia hanya menghasilkan “intelektualisme kosong”—pandai berbicara, tetapi gagal mengubah realitas.


Lebih jauh lagi, idealisme yang tidak disertai strategi dan taktik hanya akan menjadi utopia tanpa jalan. Ia mungkin indah dalam wacana, tetapi tidak memiliki daya transformasi.


Konflik hari ini di kabupaten puncak, sisi lain dianggap sebagai sebuah ruang bisnis dan lahan kerja untuk hidup, sedangkan pada sisi yang lain merupakan sebuah kondisi penciptaan kemiskinan dan lahan subur membunuh banyak manusia dengan jiwa kebinatangan. Apa yang bangun strategi dengan konsep, terserap dalam tindakan dengan taktik, ini perlu dipahami sebagai satu fenomena sosial kejahatan dalam sistem negara dengan kekuatan skala besar. Sedangkan intelektual dan mahasiswa, pemuda, aktivis lebih terpukau dengan imajinasi tanpa kontekstual. 


*Menuju Aktivisme yang Kontekstual dan Berdaya*


Karena itu, seorang penggerak sosial harus memiliki “seni pergerakan”—kemampuan untuk membaca situasi, membangun relasi dengan massa secara faktual dan mereka yang berdaya tinggi serta merumuskan langkah yang kontekstual.


Aktivisme bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling mampu menghubungkan gagasan dengan realitas faktual.


Bukan tentang siapa yang paling radikal dalam kata-kata, tetapi siapa yang paling efektif dalam tindakan.


Jika tidak, maka gerakan hanya akan berjalan di tempat (stagnan). Ia menjadi ritual kosong—penuh simbol, tetapi kehilangan substansi.


Dan pada akhirnya, rakyat akan meninggalkannya. Bukan karena rakyat tidak peduli, tetapi karena gerakan itu sendiri gagal menjadi relevan dan kontekstual.


*Saya tarik dagingnya begini:*


Aktivisme yang kuat bukanlah aktivisme yang hanya bersandar pada idealisme, melainkan yang mampu mengintegrasikan analisis, konteks, taktik, strategi, dan praksis nyata. Tanpa itu, perjuangan hanya akan menjadi gema kosong di tengah realitas yang terus bergerak. (*JT)

Komentar