PENGUNGSIAN DI TANAH PAPUA WARGA AWAM TERPAKSA TERBANG LAGI DI KEMBRU, PUNCAK.






PENGUNGSIAN DI TANAH PAPUA WARGA AWAM TERPAKSA TERBANG LAGI DI KEMBRU, PUNCAK


SITUASI PAPUA : Sejak 31 Januari 2026, operasi militer Indonesia melalui darat dan udara di Kecamatan Kemboja, Kabupaten Puncak dilaporkan telah menyebabkan pengeboman desa-desa dan kawasan pengungsi, memaksa warga sipil melarikan diri ke hutan dan menuju Sinak dan Yambi (Puncak Jaya).

Kembru telah menjadi tempat perlindungan yang aman bagi orang-orang yang terlantar akibat pertempuran sebelumnya di Pogoma dan distrik sekitarnya. Ini juga merupakan rute kunci bagi keluarga pengungsi untuk mengakses makanan dan persediaan dasar.

Desa-desa yang terkena dampak pada 31 Januari:

Nilome, Kembru, Makuma, Tenoti, Kumikomo, Yigunggi, Gelegi, Aguit, Belaba.

Pada saat yang sama, akses internet terputus dari Sabtu pagi (31 Januari) hingga Minggu (1 Februari), mencegah warga sipil melaporkan apa yang terjadi.

Laporan dari Pembela Hak Asasi Manusia (HRD) mengatakan:

• Drone menjatuhkan bom di dekat penempatan sipil dan lokasi pengungsi.

• Keluarga melarikan diri dengan berjalan kaki selama puluhan kilometer melalui hutan.

• Bayi, anak-anak, wanita hamil, dan orang tua termasuk yang melarikan diri.

• Orang-orang sakit ditinggalkan di tempat-tempat pengungsi selama pelarian.

• Lebih banyak warga sipil dari Puncak sekarang mencari keselamatan di Sinak dan Yambi.

❗ Daerah pengungsi harus dilindungi, bukan bertarget.

HRD memanggil untuk:

• Segera berhenti untuk operasi militer di daerah sipil dan pengungsi.

• Perlindungan dan akses kemanusiaan bagi komunitas pengungsi.

• Penghormatan terhadap hak asasi manusia warga sipil di Papua.

Jika operasi terhadap kelompok bersenjata, warga sipil tidak boleh ditempatkan dalam bahaya.

Sumber: Pembela Hak Asasi Manusia; Doshare untuk mediasikan kembali oleh Agus G. Mote  



#FREEWESTPAPUANOW


 

Komentar