Sebagai pejuang kemerdekaan, sa (saya) harus menegaskan sejak awal: perjuangan Papua bukanlah perang agama, bukan pula perebutan tafsir iman.
Sebagai pejuang kemerdekaan, sa (saya) harus menegaskan sejak awal: perjuangan Papua bukanlah perang agama, bukan pula perebutan tafsir iman.
Kita menghargai pilihan iman dan keyakinan politik setiap orang, baik Kristen maupun Islam, atau yang lain. Baik mereka yang mendukung Palestina maupun Israel. Namun dalam garis perjuangan, kita wajib jernih melihat kenyataan: kolonialisme tidak pernah mengenal iman, ia hanya mengenal tanah yang bisa dirampas, sumber daya yang bisa dijarah, dan manusia yang bisa diperbudak.
Sejarah telah mencatat bahwa bangsa-bangsa di dunia berkali-kali dibius oleh propaganda yang mengatasnamakan Alkitab maupun Al-Qur’an. Israel modern yang berdiri pada 1948 lahir dari proyek kolonialisme Barat, memakai narasi “tanah perjanjian” untuk menutupi pengusiran jutaan Rakyat Palestina. Hamas dan Fatah di Palestina, maupun rezim-rezim di Irak, juga tak lepas dari manipulasi kekuatan global yang menjadikan agama sebagai selimut perebutan minyak, tanah, dan kekuasaan politik.
Penjahat global yang hari ini berkuasa dengan kekuatan ekonomi-politik menjadikan ayat-ayat suci sebagai senjata ideologis untuk membius kesadaran umat manusia, agar lupa bahwa akar masalah bukanlah kitab suci, melainkan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme internasional.
Yesus sendiri menegaskan arah perjuangan itu. Ketika murid-murid bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6), Yesus tra (tidak) menjawab dengan membangun negara Israel. Ia malah memberi amanat: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).
Injil bukan hanya untuk Yahudi, melainkan untuk segala bangsa (Roma 10:12). Artinya, jalan Yesus bukanlah menghidupkan nasionalisme Israel, melainkan membebaskan manusia lintas bangsa dari penindasan, ketidakadilan, dan dosa-dosa kuasa. Yesus menolak mengikat kabar baik hanya pada satu bangsa; Ia membebaskannya untukk semua bangsa.
Begitu pula Al-Qur’an menegaskan hal yang serupa: “Berjuanglah di jalan Allah untuk membela orang-orang yang lemah” (An-Nisa’ 4:75), dan “Berbuat baik dan berlaku adillah kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama” (Al-Mumtahanah 60:8). Kedua ayat ini menegaskan: iman sejati memanggil muslim untuk membela bangsa tertindas tanpa fanatisme agama. Ayat ini menolak ide bahwa iman harus diwujudkan dalam bentuk negara agama atau dominasi satu bangsa atas bangsa lain.
Karena itu, membela Palestina hari ini bukan karena ia Islam, tetapi karena Palestina dijajah. Menolak Israel modern bukan karena ia Yahudi atau kristen-biblikal, tetapi karena ia adalah proyek kolonialisme Barat yang merebut tanah Rakyat Palestina. Begitu pula menolak Indonesia bukan karena ia Muslim atau Kristen, tetapi karena Indonesia hari ini bertindak sebagai penjajah di Papua, dengan senjata, pemaksaan, dan perampasan tanah adat.
Narasi yang mengikat dukungan politik pada agama hanyalah jebakan kolonialisme global. Kolonialisme menanamkan doktrin bahwa siapa mendukung Israel berarti Kristen sejati, siapa mendukung Palestina berarti Muslim sejati.
Padahal, faktanya banyak orang Kristen yang tinggal di Palestina dan ditindas Israel; ada banyak Muslim di Israel yang menjadi korban diskriminasi. Ini bukti nyata bahwa kolonialisme tidak pernah melihat iman, ia hanya melihat tanah dan sumber daya.
Bagi saya, orang Indonesia yang benar-benar cerdas adalah mereka yang mendukung Papua merdeka sekaligus Palestina merdeka, bukan karena sektarian agama, melainkan karena komitmen pada prinsip keadilan universal. Sebaliknya, orang Papua yang sadar jalan Yesus tidak bisa larut dalam romantisme Israel modern. Jalan Yesus adalah jalan pembebasan segala bangsa, dan itu berarti jalan melawan sgala bentuk kolonialisme, baik atas nama integrasi nasional, tanah perjanjian, maupun jihad agama.
Bagi bangsa Papua, pesan ini terang: kita tidak boleh terjebak dalam ilusi agama sebagai politik negara. Kita berdiri pada prinsip revolusi demokratik, di mana kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Sama seperti Yesus menolak menjadikan Injil sebagai properti Israel, kita pun menolak menjadikan iman sebagai pembenar penjajahan. Perjuangan Papua adalah bagian dari perjuangan umat manusia melawan kolonialisme global, dan di situlah letak kesetiaan kita pada pesan Yesus: “Pergi, jadikanlah segala bangsa murid-Ku.”
24 September 2025
Victor Yeimo
@penggemar berat
Puisi lentera merah.
#pemulung #cerita #jalanan
#puisi #lentera #merah
#VicktorYeimo #papua



Komentar
Posting Komentar
SY ISI